Sabtu, 29 Juni 2013

Step-by-step

Bismillaah...

"Pi, nanti pas kuliah pake rok ya. Jangan pake jeans terus.."

"Pi, jangan pake celana yang ngetat. Itu mah nutup aurat tapi tetep keliatan telanjang."

Awal mula ketika ibuku menyuruh memakai rok saat kuliah, aku menolak. Malas sekali rasanya ribet-ribet memakai rok. Karena dulu memang aku lebih suka sesuatu yang simple. Setelan kerudung-kaos-celana jeans-sepatu.

Mungkin karena masih awal masuk kuliah, budaya celana jeans dari SMA masih terbawa sampai semester 1. Memakai rok hanya pada waktu tertentu, pada mata kuliah tertentu yang mewajibkan mahasiswanya memakai pakaian yang rapi. Kemeja dan rok hitam span. Besoknya, di saat mata kuliah yang notabene dosennya santai, aku pakai lagi celana jeans itu.

Cerita selanjutnya, perkenalanku dengan rok pada saat kumpul pertama member of SCIEmics.  Ada hijab yang memisahkan antara ikhwan dengan akhwat. Aku dan temanku, Lia Amalia, hanya kami berdua yang memakai celana jeans ketat saat itu. Kami melihat sebagian besar teteh-teteh SCIEmics yang menutup auratnya membuat kami berdua canggung berada di sekitar mereka. 

"Pi, nanti setiap ngumpul SCIEmics kita pake rok aja yuk."

Setelah dari perkumpulan itu, kami berdua membuat kesepakatan kalau ada kumpul SCIEmics lagi, kita pakai rok. Deal.

Memang awalnya hanya pada saat perkumpulan SCIEmics saja, tetapi lama-kelamaan sejalan dengan waktu kami jadi sering memakai rok. Tidak hanya di saat mata kuliah tertentu saja.  Aku merasakan ada yang berbeda, seperti mendapatkan chemistry. Hahaha

Lagi-lagi 'perkataan singkat' ibuku terkabul. Aku jadi lebih sering memakai rok ke kampus. Perubahanku terasa sedikit demi sedikit. Ku kurangi keberadaan dan pemakaian celana jeans. Sekarang, kalau mau beli baju aku yang me-request duluan ke ibuku, "mah, Epi mau beli rok aja. Hehe", bukan lagi "Epi nanti mamah beliin rok, ya."

Terbawa juga ketika berada di rumah (Bekasi), sewaktu di ajak main oleh temanku, yang tadinya aku memakai celana jeans sekarang berubah memakai rok dan dilengkapi kaos kaki.  

"Ciyeee pake rok. Pengen sih, Pi. Sekarang sih baru pake kaos kaki dulu ke kampus hehe."

Step-by-step. Awalnya juga aku masih suka yang simple-simple. Dari pergantian celana jeans dengan rok, lalu mulai pakai kaos kaki, dan menutup dadaku dengan jilbabku. Yang dulunya setelan kerudung-kaos-celana jeans-sepatu berubah jadi kerudung-baju panjang-rok-kaos kaki-sepatu sendal. 

Pelajaran: Terkadang, lingkungan menjadi salah satu faktor yang dapat mempengaruhi kita. Jika kita berada di lingkungan yang sebagian besar terdapat orang-orang yang baik, maka terbawa pula kita di dalamnya. :) 

Jumat, 28 Juni 2013

Mimpi dan Kenyataan #2

Apa yang harus aku katakan ke ayah dan ibuku nanti sewaktu sahur? lanjutan Mimpi dan Kenyataan #1

Semalaman aku dilanda kebingungan. Keinginanku adalah kuliah di UPI Bandung dengan menggenggam jurusan Bahasa dan Sastra Jepang, karena aku ingin sekali bisa ke Jepang, mengikuti Exchange Student kesana. Aku senang bisa mendapatkan UPI, tapi apa yang aku ketahui tentang jurusan Pend.Manajemen Perkantoran ini? Aku disarankan teman-temanku yang pada saat itu mereka masih terjaga (begadang) untuk Sholat Istikharah. Minta petunjuk dari Allah SWT supaya ditunjukkan mana yang terbaik.

"Pah, Mah, Epi dapet UPI".
"Alhamdulillaah...!!" (perasaan senang terpancar dari wajah mereka)
"Tapi Epi dapetnya bukan di jurusan Sastra Jepang, tapi di Manajemen Perkantoran".

*hening*

Dulu memang sewaktu mengambil Jurusan Pendidikan Manajemen Perkantoran karena tidak disengaja. Karena bingung, di UPI tujuanku hanya Bahasa dan Sastra Jepang. Ketika itu aku di daftarkan oleh ayahku di kantornya, "Epi, papah lagi daftarin Epi nih. Pilihan yang pertama kan Bahasa dan Sastra Jepang, pilihan keduanya apa?" sewaktu di telepon aku bingung. Sebelum daftar, malamnya aku bersama kedua orangtuaku buka web UPI. Aku memilih untuk pindah haluan (lagi) dari IPA ke IPS, hehe. Aku buka jurusan-jurusan yang ada di Fakultas Pendidikan Ekonomi dan Bisnis. Aku bingung saat disuruh memilih jurusan apa, yang aku tangkap duluan yaitu antara jurusan Pendidikan Manajemen Bisnis dan Pendidikan Manajemen Perkantoran. Mindsetku bilang sepertinya kalau aku memilih jurusan Pendidikan Manajemen Bisnis nantinya aku bakal jadi Pebisnis/Pengusaha, dan kalau aku pilih jurusan Pendidikan Manajemen Perkantoran aku bakal jadi Manajer atau kerja kantoran._.

"Epi jadinya yg pilihan kedua mau yang mana? Manajemen Bisnis atau Manajemen Perkantoran?" 

Aku bingung, kedua jurusan itu sama-sama bagus. Akhirnya aku serahkan sama ayahku untuk pilihan yang kedua karena fokusku hanya di pilihan pertama saja. Setelah selesai daftar, ayahku bilang "Papah udah daftarin, Pi. Jadinya Bahasa dan Sastra Jepang sama Pendidikan Manajemen Perkantoran, ya". 

Paginya, ibuku memberitahu keluarga besarku yang ada di Rangkasbitung, Banten bahwa aku keterima di UPI. Ibuku dapat info kalau salah seorang uwa-ku (suami dari kakak perempuannya) ada yang dulunya juga Manajemen Perkantoran. Ayahku menyarankan untuk mencari silabus tentang Manajemen Perkantoran. Alhamdulillaah, setelah mendapatkan banyak info akhirnya aku didukung untuk menjalankan amanah di jurusan Pendidikan Manajemen Perkantoran. Toh mungkin Allah SWT punya rencana yang lebih baik buatku di jurusan ini ketimbang di jurusan Bahasa dan Sastra Jepang :')

Disini aku mengambil kesimpulan dan pembelajaran. Dari semua kegagalanku, aku belajar banyak hal. Tentang perjuangan dan keikhlasan. Perjuanganku untuk mendapatkan jurusan Sastra Jepang tidak selurus jalan tol, malah berliku-liku seperti jalan di gunung. Keikhlasan, aku belajar mengikhlaskan keinginanku ke Sastra Jepang karena aku harus positive thinking ke rencana Allah SWT. Teman seperjuanganku dan sepemikiranku untuk ke jurusan Jepang, Dwi Anggorowati, dia pun punya jalan sendiri mendapatkan beasiswa ke ITSB dan meninggalkan keinginan untuk ke Sastra Jepang. 
Mungkin inilah jalan yang disediakan Allah SWT untukku.

mengutip dari Al-Qur'an surat Al-Baqarah ayat 216:

"....Tetapi boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah Mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui."

Wassalaamu'alaykum :)

Mimpi dan Kenyataan

Untuk menjadi salah satu mahasiswa di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI Bandung) buatku tidak semudah yang aku kira. Lika-liku yang aku dapatkan banyak sekali yang bisa aku jadikan pelajaran dari kegagalanku kemarin. Dan inilah perjalananku..


Awal dari perjalanan ini dimulai saat kelulusan SMA tahun 2012. Aku dilanda kebingungan disaat aku harus menentukan Universitas mana yang akan kupilih. Setiap ditanya temanku, "Pi, mau kuliah dimana?" dengan PeDe nya aku menjawab, "aku mau Ahli Gizi-IPB, Sastra Jepang-UPI, sama Teknik Industri-UNS hehe".

Dulu sebenernya, yang menjadi keinginanku itu masuk di jurusan Bahasa dan Sastra Jepang. Awal mula aku suka jurusan itu karena ketertarikan aku melihat orang yang jago berbahasa asing. Aku suka saat melihat orang oriental bisa ngobrol dengan orang asing. Sewaktu masuk SMA, ternyata aku mendapatkan pelajaran bahasa asing yaitu bahasa Jepang. Sensei -panggilan guru dalam bahasa Jepang- Dyah, dialah yg menjadi guru Jepangku kala itu.

"Hajimemashite, Watashi wa Shelfira desu. Bekasi ni sunde imasu. Douzo yoroshiku onegaishimasu" (sambil sedikit membungkukkan badan).

Kata-kata itu yang sering aku ingat sampai sekarang, haha :D

Selain dari sensei, yang menjadi ketertarikanku terhadap Jepang juga saat aku nonton "TV Champion" yang ada di TPI. Ada lagi acara Masquirade dan Benteng Takeshi. Aku melihat banyak sekali orang Jepang yang kreatif tanpa batas. Nah disitulah kenapa aku kepengen banget ke Jepang, karena aku kepo akan kreatifitas yang mereka miliki. Hehe :P

Realitanya, kok Epi ada di jurusan Pendidikan Manajemen Perkantoran? Bukannya pengen ke Sastra Jepang?



Aku akan jabarkan tentang statement-ku itu, ya! :D
Setelah lulus SMA, perjalanan mencari tempat sekolah selanjutnya dimulai dari mendaftarkan diri ke Poltekes Kemenkes Jakarta 2 jurusan Gizi. Dari 2 jalur yang aku ikuti (PMDK & Tes Tulis), keduanya tidak menandakan kalau aku diterima. Perasaan hati masih santai karena aku berfikir, "Mungkin belum rezeki di Poltekes, Pi. Tenang, masih ada SNMPTN".

Lalu, saat-saat SNMPTN tulis itu datang. Perasaan campur aduk ketika persiapan mengikuti ujian mulai terasa dari sejak bangun tidur. Perasaan was-was datang ketika banyak pemikiran buruk yang terlintas di pikiran. Aku takut mengecewakan orangtuaku, terlebih kepada ayahku yang mengantarkanku sampai ke tempat tes dan mendo'akan anaknya supaya diberi kelancaran. Do'a juga disampaikan dari ibuku ketika aku akan berangkat. Perasaan sedih menghampiri jika aku tidak bisa membanggakan mereka. 
Di SNMPTN tulis, aku memilih yang pertama Ahli Gizi - UNDIP (karena setelah aku search, di IPB hanya menampung kurang lebih 12org dari ribuan peminat. Aku merasa terkucilkan dan memilih pindah haluan :P), yang kedua Bahasa dan Sastra Jepang (always), dan Teknik Industri - UNS. Awalnya emang ibuku tidak mengizinkan anaknya untuk kuliah di daerah Jawa, karena faktor kejauhan dan kalo sendiri takut kenapa-napa katanya --" tapi setelah tau sepupu perempuanku juga nyoba di universitas yang aku pilih juga, jadi ibuku memperbolehkan hehe.



Langsung ke hasil dari SNMPTN tulis. Mungkin Allah SWT belum mengizinkan aku untuk ada di salah satu jurusan yang aku pilih. Aku gagal lagi. Awalnya pesimis, sedih, nyesek itu pasti ada, tapi dengan wejangan dari ayahku dan kakekku, akhirnya aku dikuatkan dan dimotivasi kembali. 

Keputusan selanjutnya, ayah dan ibuku menyarankan aku untuk mengikuti Ujian Mandiri. "Sekarang, Epi belajar lagi buat UM. Ikutin aja UM yang ada, soal rezeki insya Allaah pasti ada jalan". Itu sebagian kata yang aku inget dari ayah dan ibuku. Merekalah yang selalu men-support ketika aku down dan merasa gagal. Dan aku sangat bangga karena memiliki mereka.

Mulailah dari mendaftar UM UNPAD atau yang disebut SMUP, UM UNDIP, UM UNJ, dan UM UPI. Banyak ya, inilah awal perjuanganku. Sebenernya ada SIMAK UI, tapi gatau kenapa aku kurang tertarik. Hehe. 

Aturan mengikuti SMUP sama seperti aturan mengikuti UM UPI, sistem penilaiannya memakai nilai SNMPTN tulis. Aku gatau nilai SNMPTN-ku berapa, karena tidak adanya transparansi nilai. Tapi aku berdo'a semoga nilaiku ada yang nyangkut di salah satu yang aku pilih. UM UNJ dan UM UNDIP penilaiannya memakai tes tulis lagi. 
Di SMUP, aku memilih Sastra Jepang dan Teknologi Pangan. Di UM UPI, aku memilih Bahasa dan Sastra Jepang dan Pendidikan Manajemen Perkantoran. Di UM UNJ, aku memilih Manajemen dan Bahasa dan Sastra Jepang dan terakhir UM UNDIP aku memilih Administrasi Bisnis, Sastra Inggris, dan Teknik Kimia.

Sesuai urutan tanggal pengumuman,
Ketika pengumuman SMUP...
Perasaan sedih dan kecewa lagi-lagi-dan lagi. Aku gagal lagi. 

UM UNDIP...
Ohya ada sedikit cerita. Sewaktu sebelum diumumkan hasil tes UM UNDIP, malamnya ibuku bilang, "Pi, mamah pengennya sih kalau Epi kuliah di Bandung". dan aku hanya bisa "Aamiin" dalam hati.

UM UNJ...

Gagal lagi. Ayah dan ibuku sudah cukup bersabar mendapatkan info yang sama, gagal lagi. Sebelum mendapatkan hasil dari UM UNJ ini, aku sudah daftar lagi di Universitas Dharma Persada. Banyak yang bilang disana untuk Sastra Jepang bisa dikatakan bagus. Ya, lagi-lagi kedua orangtuaku mendukungku untuk ini. Dan Alhamdulillaah, ternyata aku hanya tinggal tes kesehatan saja di UNSADA.

Dan besoknya, pengumuman UPI!!!
Dengan ke-kepo-anku, aku memberanikan diri membuka web pmb.upi.edu tengah malam. Aku berdo'a semoga UPI bisa aku raih dan Jepang bisa aku dapatkan. Dan setelah lihat hasilnya.....TADAAA!!! Mamah, do'amu terkabulkan. Anakmu kuliah di Bandung, di UPI Bandung. Tapi.....kenapa bukan Bahasa dan Sastra Jepang? Kenapa di Pendidikan Manajemen Perkantoran? Tengah malam aku bingung, aku harus milih antara UPI - Pendidikan Manajemen Perkantoran atau Sastra Jepang - Universitas Dharma Persada. Apa yang harus aku katakan ke ayah dan ibuku nanti sewaktu sahur?

*to be continued

Kamis, 27 Juni 2013

New Post



Assalaamu'alaykum wr. wb

Alhamdulillaah, akhirnya bisa buat blog lagi setelah 2 atau 3 blog sudah pernah dimiliki tapi isinya engga ada manfaatnya hehe dan diputuskanlah blog ini sebagai awal sebuah karyaku yang insyaa Allaah bisa bermanfaat untuk yang membacanya :D

Awal dari pembuatan blog ini adalah sebagai suatu wadah untuk menampung semua pemikiranku yang belum atau tidak tersampaikan oleh lisan. Disini (semoga) bisa selalu memberikan manfaat yang baik bagi semuanya.



Bismillaahirrahmaanirrahiim... :)