Jumat, 28 Juni 2013

Mimpi dan Kenyataan

Untuk menjadi salah satu mahasiswa di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI Bandung) buatku tidak semudah yang aku kira. Lika-liku yang aku dapatkan banyak sekali yang bisa aku jadikan pelajaran dari kegagalanku kemarin. Dan inilah perjalananku..


Awal dari perjalanan ini dimulai saat kelulusan SMA tahun 2012. Aku dilanda kebingungan disaat aku harus menentukan Universitas mana yang akan kupilih. Setiap ditanya temanku, "Pi, mau kuliah dimana?" dengan PeDe nya aku menjawab, "aku mau Ahli Gizi-IPB, Sastra Jepang-UPI, sama Teknik Industri-UNS hehe".

Dulu sebenernya, yang menjadi keinginanku itu masuk di jurusan Bahasa dan Sastra Jepang. Awal mula aku suka jurusan itu karena ketertarikan aku melihat orang yang jago berbahasa asing. Aku suka saat melihat orang oriental bisa ngobrol dengan orang asing. Sewaktu masuk SMA, ternyata aku mendapatkan pelajaran bahasa asing yaitu bahasa Jepang. Sensei -panggilan guru dalam bahasa Jepang- Dyah, dialah yg menjadi guru Jepangku kala itu.

"Hajimemashite, Watashi wa Shelfira desu. Bekasi ni sunde imasu. Douzo yoroshiku onegaishimasu" (sambil sedikit membungkukkan badan).

Kata-kata itu yang sering aku ingat sampai sekarang, haha :D

Selain dari sensei, yang menjadi ketertarikanku terhadap Jepang juga saat aku nonton "TV Champion" yang ada di TPI. Ada lagi acara Masquirade dan Benteng Takeshi. Aku melihat banyak sekali orang Jepang yang kreatif tanpa batas. Nah disitulah kenapa aku kepengen banget ke Jepang, karena aku kepo akan kreatifitas yang mereka miliki. Hehe :P

Realitanya, kok Epi ada di jurusan Pendidikan Manajemen Perkantoran? Bukannya pengen ke Sastra Jepang?



Aku akan jabarkan tentang statement-ku itu, ya! :D
Setelah lulus SMA, perjalanan mencari tempat sekolah selanjutnya dimulai dari mendaftarkan diri ke Poltekes Kemenkes Jakarta 2 jurusan Gizi. Dari 2 jalur yang aku ikuti (PMDK & Tes Tulis), keduanya tidak menandakan kalau aku diterima. Perasaan hati masih santai karena aku berfikir, "Mungkin belum rezeki di Poltekes, Pi. Tenang, masih ada SNMPTN".

Lalu, saat-saat SNMPTN tulis itu datang. Perasaan campur aduk ketika persiapan mengikuti ujian mulai terasa dari sejak bangun tidur. Perasaan was-was datang ketika banyak pemikiran buruk yang terlintas di pikiran. Aku takut mengecewakan orangtuaku, terlebih kepada ayahku yang mengantarkanku sampai ke tempat tes dan mendo'akan anaknya supaya diberi kelancaran. Do'a juga disampaikan dari ibuku ketika aku akan berangkat. Perasaan sedih menghampiri jika aku tidak bisa membanggakan mereka. 
Di SNMPTN tulis, aku memilih yang pertama Ahli Gizi - UNDIP (karena setelah aku search, di IPB hanya menampung kurang lebih 12org dari ribuan peminat. Aku merasa terkucilkan dan memilih pindah haluan :P), yang kedua Bahasa dan Sastra Jepang (always), dan Teknik Industri - UNS. Awalnya emang ibuku tidak mengizinkan anaknya untuk kuliah di daerah Jawa, karena faktor kejauhan dan kalo sendiri takut kenapa-napa katanya --" tapi setelah tau sepupu perempuanku juga nyoba di universitas yang aku pilih juga, jadi ibuku memperbolehkan hehe.



Langsung ke hasil dari SNMPTN tulis. Mungkin Allah SWT belum mengizinkan aku untuk ada di salah satu jurusan yang aku pilih. Aku gagal lagi. Awalnya pesimis, sedih, nyesek itu pasti ada, tapi dengan wejangan dari ayahku dan kakekku, akhirnya aku dikuatkan dan dimotivasi kembali. 

Keputusan selanjutnya, ayah dan ibuku menyarankan aku untuk mengikuti Ujian Mandiri. "Sekarang, Epi belajar lagi buat UM. Ikutin aja UM yang ada, soal rezeki insya Allaah pasti ada jalan". Itu sebagian kata yang aku inget dari ayah dan ibuku. Merekalah yang selalu men-support ketika aku down dan merasa gagal. Dan aku sangat bangga karena memiliki mereka.

Mulailah dari mendaftar UM UNPAD atau yang disebut SMUP, UM UNDIP, UM UNJ, dan UM UPI. Banyak ya, inilah awal perjuanganku. Sebenernya ada SIMAK UI, tapi gatau kenapa aku kurang tertarik. Hehe. 

Aturan mengikuti SMUP sama seperti aturan mengikuti UM UPI, sistem penilaiannya memakai nilai SNMPTN tulis. Aku gatau nilai SNMPTN-ku berapa, karena tidak adanya transparansi nilai. Tapi aku berdo'a semoga nilaiku ada yang nyangkut di salah satu yang aku pilih. UM UNJ dan UM UNDIP penilaiannya memakai tes tulis lagi. 
Di SMUP, aku memilih Sastra Jepang dan Teknologi Pangan. Di UM UPI, aku memilih Bahasa dan Sastra Jepang dan Pendidikan Manajemen Perkantoran. Di UM UNJ, aku memilih Manajemen dan Bahasa dan Sastra Jepang dan terakhir UM UNDIP aku memilih Administrasi Bisnis, Sastra Inggris, dan Teknik Kimia.

Sesuai urutan tanggal pengumuman,
Ketika pengumuman SMUP...
Perasaan sedih dan kecewa lagi-lagi-dan lagi. Aku gagal lagi. 

UM UNDIP...
Ohya ada sedikit cerita. Sewaktu sebelum diumumkan hasil tes UM UNDIP, malamnya ibuku bilang, "Pi, mamah pengennya sih kalau Epi kuliah di Bandung". dan aku hanya bisa "Aamiin" dalam hati.

UM UNJ...

Gagal lagi. Ayah dan ibuku sudah cukup bersabar mendapatkan info yang sama, gagal lagi. Sebelum mendapatkan hasil dari UM UNJ ini, aku sudah daftar lagi di Universitas Dharma Persada. Banyak yang bilang disana untuk Sastra Jepang bisa dikatakan bagus. Ya, lagi-lagi kedua orangtuaku mendukungku untuk ini. Dan Alhamdulillaah, ternyata aku hanya tinggal tes kesehatan saja di UNSADA.

Dan besoknya, pengumuman UPI!!!
Dengan ke-kepo-anku, aku memberanikan diri membuka web pmb.upi.edu tengah malam. Aku berdo'a semoga UPI bisa aku raih dan Jepang bisa aku dapatkan. Dan setelah lihat hasilnya.....TADAAA!!! Mamah, do'amu terkabulkan. Anakmu kuliah di Bandung, di UPI Bandung. Tapi.....kenapa bukan Bahasa dan Sastra Jepang? Kenapa di Pendidikan Manajemen Perkantoran? Tengah malam aku bingung, aku harus milih antara UPI - Pendidikan Manajemen Perkantoran atau Sastra Jepang - Universitas Dharma Persada. Apa yang harus aku katakan ke ayah dan ibuku nanti sewaktu sahur?

*to be continued

Tidak ada komentar:

Posting Komentar